OPINI: Ketika Atlet Berjuang Sendiri, Untuk Apa Kursi-Kursi Organisasi Itu?
Seorang atlet asal Dompu Nusa Tenggara Barat akan membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Tapi di mana peran mereka yang selama ini duduk di kursi organisasi olahraga?
5/23/20263 min read


Oleh: WIJIONO
Empat hari lalu, pada sebuah sore di Dusun Finis, Kecamatan Hu’u, saya duduk santai di depan rumah seorang teman. Tidak ada agenda besar sore itu. Sampai kemudian seseorang yang sudah lama saya kenal, Pak Idham, melintas dan berhenti menyapa kami. Saya mengenal beliau sejak kurang lebih lima tahun lalu, saat kami sama-sama bekerja di lingkungan proyek eksplorasi PT Sumbawa Timur Mining.
Percakapan ringan berubah menjadi sesuatu yang mengusik pikiran saya.
Saat saya bertanya dari mana beliau pulang, Pak Idham bercerita bahwa dirinya baru kembali dari salah satu instansi di Dompu. Ia ingin bertemu seseorang yang dianggap memiliki kewenangan untuk membantu mengoordinasikan keberangkatan menantunya, Firmansyah atau yang dikenal sebagai Om Rock, atlet panahan tradisional asal Kecamatan Hu’u yang berhasil mendapatkan golden ticket untuk mengikuti kejuaraan dunia panahan tradisional di Turki.
Namun bahkan sebelum sempat bertemu dan menyampaikan maksudnya, ia sudah lebih dulu mendapat penolakan dari penjaga dengan alasan orang yang ingin ditemui sedang sibuk.
Saya terdiam mendengar cerita itu.
Di satu sisi, daerah ini sering berbicara tentang prestasi, generasi muda, dan kebanggaan daerah. Tetapi di sisi lain, ada atlet yang akan membawa nama Indonesia ke tingkat dunia justru harus berkeliling mencari perhatian hanya untuk mendapatkan ruang menyampaikan aspirasi.
Dan yang paling menyedihkan, waktu keberangkatannya tinggal menghitung hari.
Sore itu juga saya mulai menelepon siapa pun yang saya anggap mungkin memahami jalur organisasi olahraga. Saya mencoba mencari tahu siapa sebenarnya yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap persoalan atlet seperti ini. Hingga akhirnya saya mendapatkan nomor Ketua KORMI Kabupaten Dompu, yang ternyata juga merupakan seorang anggota DPRD.
Tanpa berpikir panjang saya langsung mengirim pesan WhatsApp dengan penuh hormat, memperkenalkan diri, menjelaskan bahwa saya hanya salah satu pihak yang mencoba membantu komunikasi keberangkatan atlet daerah yang akan mewakili Indonesia di Turki. Saya menyampaikan bahwa Om Rock adalah kebanggaan daerah dan berharap bisa bersilaturahmi untuk meminta arahan serta dukungan.
Tetapi pesan itu tidak pernah mendapatkan jawaban.
Tidak ada respons. Tidak ada tanggapan. Tidak ada sekadar kalimat singkat yang menunjukkan bahwa persoalan ini dianggap penting.
Di titik itu saya mulai berpikir: sebenarnya kursi-kursi organisasi olahraga di daerah ini digunakan untuk apa?
Kita terlalu sering bangga ketika atlet berhasil. Foto dipasang di media sosial, ucapan selamat bertebaran, nama daerah disebut dengan penuh semangat. Tetapi ketika atlet sedang berjuang menuju titik itu, banyak yang memilih diam. Seolah perhatian hanya hadir setelah prestasi menjadi viral.
Padahal jabatan dalam organisasi olahraga bukan sekadar simbol sosial atau tempat terlihat penting di acara seremonial. Itu amanah. Di balik satu nama dalam struktur organisasi, ada harapan atlet, ada masa depan anak-anak muda daerah, bahkan ada nama Indonesia yang sedang dipertaruhkan.
Karena tidak ingin berhenti pada kekecewaan, saya kembali mencari jalan lain. Hingga akhirnya saya mendapatkan kontak Ketua FESPATI Kabupaten Dompu. Berbeda dengan sebelumnya, beliau langsung merespons dengan baik saat saya menelepon dan meminta waktu untuk bertemu.
Keesokan harinya kami bergerak.
Saya menjemput Ketua FESPATI di rumahnya. Bersama Om Rock, Ketua FESPATI Kabupaten Dompu, dan Camat Hu’u, kami datang bersilaturahmi ke PT Sumbawa Timur Mining sekaligus menyerahkan proposal dukungan pendampingan keberangkatan atlet panahan tradisional NTB menuju kejuaraan dunia di Turki.
Dan yang menarik, pihak STM justru menyambut kami dengan cukup positif.
Mereka menerima proposal kami dengan baik dan menyampaikan akan mendiskusikan lebih lanjut secara internal. Setidaknya, di tengah banyaknya pihak yang memilih diam, masih ada yang mau membuka pintu dan mendengar.
Dari situ saya belajar satu hal penting: kadang kepedulian justru datang dari mereka yang tidak memiliki kewajiban langsung, sementara sebagian yang memiliki posisi dan tanggung jawab malah sibuk menjaga jarak dari persoalan atlet.
Daerah ini sebenarnya tidak kekurangan talenta. Kita punya banyak anak muda yang berpotensi mengharumkan nama daerah bahkan negara. Yang sering kurang hanyalah keberanian untuk benar-benar peduli dan bekerja.
Mungkin sudah saatnya sebagian kursi organisasi itu diberikan kepada orang-orang yang memang masih punya semangat membangun olahraga, bukan sekadar menikmati jabatan. Karena menjadi ketua cabang olahraga bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk nama di struktur organisasi, dan bukan sekadar hadir saat foto bersama.
Itu tanggung jawab.
Sebab olahraga tidak dibangun dari spanduk dan seremoni. Olahraga dibangun dari keberpihakan kepada atlet yang sedang berjuang.
Dan hari ini, Om Rock mungkin sedang bersiap menuju Turki. Tetapi yang sesungguhnya sedang diuji adalah rasa tanggung jawab kita terhadap masa depan olahraga daerah itu sendiri.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada saudara saya, Dafit WBJ, yang telah banyak membantu dan memfasilitasi perjalanan bolak-balik Hu’u–Dompu dalam proses persiapan komunikasi dan pendampingan kepada pihak PT Sumbawa Timur Mining.
Sampai detik tulisan ini saya kirim ke tim BrutalNews, anggota DPRD yang juga disebut sebagai Ketua KORMI (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia) Kabupaten Dompu tersebut masih belum memberikan balasan ataupun tanggapan apa pun terhadap pesan yang sebelumnya saya sampaikan dengan penuh hormat.
Padahal pesan itu bukan tentang kepentingan pribadi, bukan pula tentang urusan politik ataupun proyek. Pesan itu hanya tentang seorang atlet daerah yang sedang membawa nama Indonesia menuju panggung dunia.
Mungkin bagi sebagian orang, sebuah pesan WhatsApp bisa dianggap hal kecil yang mudah diabaikan. Tetapi bagi seorang atlet yang sedang berpacu dengan waktu menjelang keberangkatan internasional, respons sekecil apa pun bisa berarti bahwa masih ada yang peduli dan mau hadir bersama perjuangan mereka.
Dan terkadang, ketidakpedulian paling terasa bukan melalui penolakan, melainkan melalui sikap diam terhadap perjuangan yang seharusnya layak mendapat perhatian.
