Bahkan Mereka yang Tidak Pernah Mengisi BBM Sekalipun Tetap Ikut Merasakannya

PT Pertamina menyesuaikan harga sejumlah BBM non-subsidi, di antaranya Dexlite yang naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter, Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter, serta Pertamax Turbo dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi di Rp6.800 per liter.

Ade

5/8/20242 min read

Brutal News. — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) resmi terjadi per 4 Mei 2026. PT Pertamina menyesuaikan harga sejumlah BBM non-subsidi, di antaranya Dexlite yang naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter, Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter, serta Pertamax Turbo dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi di Rp6.800 per liter.

Bagi sebagian orang, perubahan angka tersebut mungkin hanya terasa di SPBU. Namun kenyataannya, dampak kenaikan BBM tidak berhenti di sana. Ia bergerak lebih jauh, perlahan, dan tanpa disadari masuk ke kehidupan sehari-hari bahkan bagi mereka yang tidak pernah sekalipun mengisi BBM.

Hampir seluruh barang yang dikonsumsi masyarakat, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan rumah tangga, bergantung pada proses distribusi menggunakan kendaraan berbahan bakar. Ketika harga BBM naik, biaya operasional transportasi ikut meningkat. Kondisi ini kemudian mendorong penyesuaian harga di tingkat pedagang.

Kenaikan tersebut jarang terjadi secara drastis. Tidak ada lonjakan besar dalam satu waktu. Namun perubahan kecil yang terjadi berulang seribu rupiah di satu barang, dua ribu di barang lain perlahan membentuk beban baru dalam pengeluaran harian masyarakat.

Fenomena ini mulai terasa di pasar dan warung. Bagi masyarakat yang rutin berbelanja, selisih harga yang awalnya tidak terlalu terlihat menjadi semakin terasa dari waktu ke waktu. Tanpa disadari, total belanja menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.

Di sisi lain, pelaku usaha kecil berada dalam posisi yang sulit. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dengan konsekuensi keuntungan yang semakin menipis. Dalam kondisi ini, banyak usaha bertahan di batas minimum.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan BBM bukan hanya berdampak pada sektor energi atau pengguna kendaraan, tetapi merambat ke berbagai lini kehidupan. Bahkan masyarakat yang tidak menggunakan kendaraan pribadi tetap ikut merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Kenaikan BBM mungkin merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi global. Namun di tingkat masyarakat, dampaknya bersifat nyata dan langsung menyentuh kebutuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, kenaikan BBM bukan sekadar perubahan harga bahan bakar. Ia adalah awal dari perubahan biaya hidup yang datang perlahan, namun pasti, dan dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali.